MAJALENGKA – Minggu pagi, 5 Juli 2026, suasana di Tempat Pemakaman Umum keluarga di Desa Talaga Wetan, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, berlangsung begitu hening. Tidak ada hiruk pikuk protokoler kenegaraan, tidak terdengar pidato, dan tak ada pembahasan mengenai penegakan hukum ataupun perkara besar yang selama ini melekat pada sosok Jaksa Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. ST Burhanuddin.
Yang terdengar hanyalah lantunan doa yang lirih, desir angin yang berembus di antara pepohonan, serta langkah-langkah keluarga yang berjalan perlahan menuju pusara orang-orang tercinta.

Di hadapan deretan makam keluarga, ST Burhanuddin duduk bersimpuh. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya terangkat memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya. Di sampingnya, sang kakak, Anggota DPR RI Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, turut khusyuk menengadahkan tangan. Bersama keluarga besar, mereka pulang ke kampung halaman untuk menziarahi makam ayah, ibu, serta anggota keluarga yang telah lebih dahulu berpulang.
Di tempat itu, segala atribut kekuasaan seolah luruh. Jabatan Jaksa Agung maupun anggota DPR RI tidak lagi menjadi pembeda. Yang tampak hanyalah dua orang anak yang datang membawa rindu dan doa kepada kedua orang tuanya.
“Di sini ada makam ibu saya, bapak saya, nenek saya, kakek saya, juga saudara-saudara saya,” tutur ST Burhanuddin dengan suara pelan sembari memandang satu per satu pusara keluarga.
Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa kuatnya ikatan seseorang dengan tanah kelahirannya. Di tengah padatnya tanggung jawab sebagai pejabat negara, ia tetap menyempatkan diri kembali ke tempat di mana akar kehidupannya bermula.
Bagi banyak orang, ziarah bukan sekadar tradisi. Ia adalah ruang untuk mengenang, merenungkan perjalanan hidup, sekaligus mengirimkan doa kepada orang-orang yang telah mendahului. Momen seperti inilah yang memperlihatkan bahwa setinggi apa pun jabatan yang disandang seseorang, tidak ada yang mampu memutus hubungan batin antara seorang anak dengan orang tuanya.
Suasana haru menyelimuti area pemakaman. Keluarga tampak larut dalam doa, sementara keheningan pagi di Talaga Wetan menjadi saksi pertemuan yang tak lagi melalui kata-kata, melainkan melalui doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan.
Kehadiran ST Burhanuddin dan TB Hasanuddin di makam keluarga juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai penghormatan kepada orang tua serta tidak melupakan asal-usul, meski telah mengemban amanah besar di tingkat nasional.
Bagi masyarakat yang menyaksikan, momen tersebut menghadirkan sisi lain dari sosok seorang Jaksa Agung. Di balik ketegasan dalam menegakkan hukum, tersimpan sosok anak yang tetap pulang untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, meski kini hanya dapat dilakukan melalui doa di hadapan pusara.
Di bawah langit pagi Majalengka, lantunan doa terus mengalun. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan panggung. Yang ada hanyalah cinta seorang anak yang tak pernah berakhir, bahkan ketika orang tua telah lebih dahulu meninggalkan dunia.
Sumber Kabar Majalengka















































