MAJALENGKA – Tingginya angka kasus HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Majalengka. Di tengah upaya mewujudkan visi Majalengka Langkung SAE, dua penyakit menular tersebut masih menjadi tantangan besar yang berpengaruh terhadap kualitas hidup, produktivitas masyarakat, hingga beban pelayanan kesehatan.
Bupati Majalengka H. Eman Suherman menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa. Menurutnya, data kasus yang masih tinggi harus menjadi dasar dalam memperkuat kebijakan sekaligus mempercepat langkah nyata di lapangan.

“Ini menjadi alarm serius bagi kita semua. Penanganan tidak boleh hanya berhenti pada data, tetapi harus diwujudkan dalam langkah nyata dan terukur,” ujar Eman Suherman, Kamis (23/7/2026).
Kasus HIV/AIDS Berpotensi Kembali Meningkat
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka, kasus HIV/AIDS di Majalengka menunjukkan tren yang masih perlu diwaspadai.
Pada 2024 tercatat sebanyak 203 kasus. Angka tersebut menurun menjadi 148 kasus pada 2025. Namun, hingga periode Januari-Mei 2026, telah ditemukan 97 kasus baru.
Meski terjadi penurunan pada tahun sebelumnya, jumlah kasus baru yang muncul dalam lima bulan pertama 2026 menunjukkan potensi peningkatan apabila upaya pencegahan, edukasi, dan deteksi dini tidak terus diperkuat.
Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya menghilangkan stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) agar masyarakat tidak takut melakukan pemeriksaan maupun menjalani pengobatan secara rutin.
TBC Masih Menjadi Ancaman Utama
Selain HIV/AIDS, penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan terbesar di sektor kesehatan Kabupaten Majalengka.
Data Dinas Kesehatan mencatat, jumlah kasus TBC pada 2024 mencapai 4.464 kasus, kemudian meningkat menjadi 4.600 kasus pada 2025. Sementara hingga pertengahan 2026, telah ditemukan 2.886 kasus.
Menurut Bupati Eman, tingginya angka tersebut menempatkan TBC sebagai salah satu ancaman utama bagi kesehatan masyarakat.
“Tingginya angka ini menempatkan TBC sebagai salah satu ancaman utama kesehatan masyarakat di Majalengka,” tegasnya.
Pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala TBC, terutama batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, demam berkepanjangan, dan keringat malam. Pemeriksaan serta pengobatan sejak dini dinilai menjadi kunci utama untuk memutus rantai penularan.
Kasus Malaria Terkendali, Kewaspadaan Tetap Dijaga
Di sisi lain, perkembangan kasus Malaria di Kabupaten Majalengka menunjukkan tren yang lebih positif.
Pada 2024 tercatat 19 kasus, kemudian turun menjadi 9 kasus pada 2025, dan hingga 2026 baru ditemukan 3 kasus.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Majalengka tetap meminta seluruh fasilitas kesehatan dan masyarakat untuk tidak lengah agar penyakit tersebut tidak kembali meningkat.
Susun Roadmap ATM 2026–2030
Sebagai langkah strategis, Pemerintah Kabupaten Majalengka tengah menyusun Roadmap Penanganan AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM) Tahun 2026–2030.
Dokumen tersebut akan menjadi pedoman terpadu dalam memperkuat sistem kesehatan daerah, mulai dari peningkatan layanan kesehatan primer, deteksi dini, perluasan edukasi masyarakat, hingga memastikan pasien memperoleh pengobatan secara berkelanjutan.
Roadmap itu juga diharapkan mampu mendukung target nasional, termasuk eliminasi Tuberkulosis pada tahun 2030.
Kolaborasi Semua Pihak Jadi Kunci
Bupati Eman menegaskan bahwa keberhasilan menekan angka HIV/AIDS, TBC, maupun Malaria tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau tenaga kesehatan semata.
Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan fasilitas kesehatan, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, tokoh agama, dunia usaha, hingga masyarakat secara luas.
Selain memperkuat layanan kesehatan primer, pemerintah juga mendorong peningkatan deteksi dini, edukasi mengenai pola hidup sehat, kepatuhan menjalani pengobatan, serta penghapusan stigma terhadap penderita HIV/AIDS agar mereka memperoleh akses layanan kesehatan tanpa diskriminasi.
“Kesadaran kolektif menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat Majalengka yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing menuju terwujudnya Majalengka Langkung SAE,” pungkas Bupati Eman Suherman.
















































